HARIANDATA.COM – Semangat gotong royong masih menjadi kekuatan utama masyarakat Desa Gurinda, Kecamatan Mepanga, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Di tengah keterbatasan infrastruktur yang telah mereka hadapi selama bertahun-tahun, warga kembali turun tangan memperbaiki jembatan yang rusak akibat diterjang derasnya arus sungai.
Tanpa menunggu bantuan, masyarakat secara swadaya mengumpulkan tenaga dan material seadanya agar jembatan tersebut kembali dapat dilalui. Bagi mereka, jembatan itu bukan sekadar penghubung antardusun, melainkan urat nadi kehidupan yang menghubungkan warga menuju kebun, sekolah, serta berbagai pusat aktivitas ekonomi dan sosial.
Desa Gurinda yang merupakan salah satu desa baru di Kecamatan Mepanga hingga kini masih menghadapi keterbatasan pembangunan infrastruktur. Kondisi jalan dan jembatan yang belum memadai menjadi persoalan yang terus berulang, terutama saat musim hujan.
Menurut keterangan warga, persoalan tersebut telah berlangsung hampir sepuluh tahun. Setiap kali banjir datang, jembatan mengalami kerusakan, bahkan tidak jarang hanyut terbawa arus sungai. Akibatnya, masyarakat kembali bergotong royong memperbaikinya menggunakan biaya dan tenaga sendiri agar aktivitas sehari-hari tidak lumpuh.
Dalam proses perbaikan yang dilakukan baru-baru ini, tampak sejumlah warga bahu-membahu memasang material secara manual. Meski dengan peralatan sederhana, semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap kepentingan bersama begitu terasa.
Kerusakan jembatan tidak hanya menghambat para petani dalam mengangkut hasil kebun menuju pasar, tetapi juga berdampak langsung terhadap anak-anak yang harus menempuh perjalanan menuju sekolah. Saat debit air meningkat dan jembatan tidak dapat dilalui, mereka terpaksa mengambil jalur alternatif yang lebih jauh dan berisiko. Sementara itu, abrasi di sepanjang aliran sungai juga mulai mengancam lahan pertanian dan permukiman warga.
Masyarakat menyebut Pemerintah Desa Gurinda telah beberapa kali mengusulkan pembangunan jembatan kepada instansi yang berwenang. Namun hingga kini, harapan tersebut belum juga terwujud dalam bentuk pembangunan permanen.
Salah seorang warga, Dasmin, berharap pemerintah segera memberikan perhatian terhadap kondisi yang telah lama mereka alami.
“Jembatan ini satu-satunya akses kami. Kalau rusak karena banjir, kami tidak punya pilihan selain memperbaikinya sendiri supaya anak-anak tetap bisa sekolah dan petani bisa membawa hasil kebun. Kami bersyukur masyarakat masih kompak bergotong royong, tetapi tentu kami berharap ada penanganan yang lebih permanen dari pemerintah yang berwenang. Kami hanya ingin akses yang aman untuk semua warga,” ujarnya.
Warga Desa Gurinda berharap kisah gotong royong yang terus mereka tunjukkan tidak lagi menjadi gambaran atas minimnya perhatian terhadap infrastruktur desa. Mereka tidak meminta sesuatu yang berlebihan, melainkan menginginkan hadirnya jembatan yang kokoh dan akses jalan yang layak agar roda perekonomian, pendidikan, dan kehidupan masyarakat dapat berjalan dengan aman dan berkelanjutan.
(Hijrah/Bang/Hariandata)












