HARIANDATA.COM – Di tengah gelombang investasi berskala besar yang masuk ke Provinsi Gorontalo, potret buram dunia pendidikan justru terekam jelas di jantung wilayah tambang emas Kabupaten Pohuwato. Saat korporasi besar mengeruk kekayaan alam hingga menghasilkan berton-ton emas, sebuah lembaga pendidikan yang menjadi tumpuan ratusan anak bangsa di Marisa Utara, Kecamatan Marisa, justru harus bertahan dalam kondisi yang memprihatinkan.
Sekolah di bawah naungan Yayasan Ashabul Kahfi ini menjadi bukti nyata adanya ketimpangan sosial yang luar biasa. Gedung sekolah tempat anak-anak belajar hanya berdindingkan tripleks miring, dengan lubang-lubang jendela yang menganga tanpa kaca. Sebuah ironi besar yang memicu pertanyaan mendasar: di mana para pemangku kebijakan saat ini?
Padahal secara prestasi dan kepercayaan masyarakat, sekolah ini menorehkan catatan luar biasa. Memasuki Tahun Ajaran Baru 2026/2027, total keseluruhan siswa yang menempuh pendidikan di yayasan ini telah mencapai kurang lebih 500 siswa. Unit Taman Kanak-Kanak (TK) di yayasan ini bahkan terbilang memiliki jumlah siswa terbanyak di tingkat Kabupaten Pohuwato. Sementara untuk jenjang Sekolah Dasar (SD), jumlah siswa baru tahun ini melonjak hingga 112 anak yang dibagi ke dalam 4 Ruangan belajar (kelas). Prestasi akademis dan agamis pun terus lahir, salah satunya pembuktian dari siswa kelas 6 SD yang Alhamdulillah telah menyelesaikan hafalan hingga 6 Juz Al-Qur’an.
Namun, antusiasme masyarakat dan prestasi anak didik ini seperti bertepuk sebelah tangan. Pemerintah Daerah dinilai menutup mata, tanpa ada sedikit pun alokasi bantuan anggaran yang menyentuh rehabilitasi maupun pembangunan sarana fisik sekolah.
Kondisi ini diperparah dengan sikap dingin pihak korporasi tambang yang beroperasi di wilayah tersebut. Salah satu pendiri Yayasan Ashabul Kahfi—yang enggan disebutkan namanya demi alasan privasi—mengungkapkan bahwa pihak pengelola telah berulang kali melayangkan permohonan tertulis kepada pihak manajemen Pani Gold Project dalam dua tahun terakhir. Sayangnya, hingga hari ini, rangkaian permohonan tersebut tidak kunjung membuahkan hasil.
Akibat minimnya kepedulian dari pemerintah dan lingkar industri, pihak pengelola kini mengalami kendala serius berupa kekurangan biaya untuk pembangunan 4 ruangan kelas baru yang sangat mendesak demi menampung limpahan siswa pada Tahun Ajaran 2026/2027. Padahal, yayasan telah mandiri secara aset, di mana lahan sekolah seluas 5.677 meter persegi berstatus aman karena telah dibeli penuh secara swadaya oleh pihak yayasan.
Merespons kebuntuan ini, pihak sekolah bersama masyarakat akhirnya memilih bergerak sendiri demi menyelamatkan masa depan anak-anak mereka dari jerat janji manis investasi global.
“Tahun ajaran 2026 ini, sekolah bersama orang tua siswa dan masyarakat membangun secara mandiri tanpa ada bantuan Pemerintah Daerah (Kabupaten) maupun pihak perusahaan manapun untuk sarana dan prasarana pembangunan kelas yang saat ini masih kekurangan biaya,” tegas salah satu pendiri yayasan dalam closing statement-nya.
Ketika ton-tonan emas Pohuwato terus dikeruk untuk kemakmuran segelintir pihak, ratusan anak-anak di Marisa Utara terpaksa harus terus menatap masa depan dari balik jendela tanpa kaca. Pembangunan sumber daya manusia yang katanya menjadi prioritas jangka panjang, tampaknya masih berupa coretan di atas kertas tanpa realisasi nyata di lapangan.
Narasumber: Salah Satu Pendiri Yayasan Ashabul Kahfi (Marisa Utara)
Penulis: Gusnar Rupu
(Redaksi/Hariandata)












