HARIANDATA.COM – Empat organisasi mahasiswa, yakni PPMI Sulteng, KPMIPM, IMIKB, dan IMPIP, menggelar nonton bareng (nobar) film dokumenter Pesta Babi sebagai ruang konsolidasi dan diskusi kritis terhadap berbagai persoalan yang terjadi di Papua, khususnya terkait kerusakan hutan dan ancaman terhadap keberlangsungan hidup masyarakat adat.
Kegiatan yang digelar di Sekretariat KPMIPM Gorontalo pada Senin (25/05/2026) itu dihadiri oleh mahasiswa, aktivis, dan jurnalis. Pemutaran film menjadi pemantik diskusi yang mengangkat realitas di balik masifnya eksploitasi sumber daya alam di Papua yang dinilai semakin menggerus ruang hidup masyarakat adat.
Mahasiswa Papua, Siga’Hane, menegaskan bahwa hutan bagi masyarakat Papua bukan sekadar kawasan yang memiliki nilai ekonomi, melainkan sumber kehidupan yang menyatu dengan identitas, budaya, dan masa depan mereka.
“Orang Papua memandang hutan sebagai sosok ibu yang memberi kehidupan. Karena itu, ketika hutan dirusak, masyarakat adat tidak mungkin hanya berdiam diri tanpa perlawanan,” tegasnya.
Menurutnya, berbagai aktivitas yang mengakibatkan hilangnya kawasan hutan tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga mengancam keberadaan masyarakat adat yang selama ini hidup dan bergantung pada alam.
Pembina IMIKB, Abdul Kadir Lawero, menyebut bahwa narasi pembangunan dan investasi kerap dijadikan pembenaran atas praktik eksploitasi yang meninggalkan jejak kerusakan lingkungan dalam skala besar.
“Apa yang disebut pembangunan tidak boleh dibayar dengan hilangnya hutan dan tersingkirnya masyarakat adat dari tanah leluhur mereka. Ketika hutan hilang, yang hilang bukan hanya pohon, tetapi juga sejarah, budaya, dan masa depan generasi berikutnya,” ujarnya.
Sementara itu, jurnalis Kompas TV, Fikar Buntuan, mengingatkan pentingnya literasi media di tengah derasnya arus informasi dan beragam narasi yang berkembang di ruang digital.
Ia menekankan bahwa generasi muda harus mampu melihat persoalan Papua secara utuh dan tidak terjebak pada informasi yang dibangun secara sepihak.
“Masyarakat harus kritis dalam menerima informasi. Jangan hanya menjadi konsumen narasi, tetapi juga berupaya memahami fakta dan konteks yang sebenarnya terjadi,” katanya.
Melalui kegiatan ini, para peserta menegaskan bahwa isu Papua bukan semata persoalan wilayah, melainkan persoalan kemanusiaan, lingkungan, dan keadilan sosial yang membutuhkan perhatian bersama.
Nobar Pesta Babi pun menjadi ruang refleksi sekaligus pengingat bahwa di balik setiap hektare hutan yang hilang, terdapat kehidupan masyarakat adat yang turut terancam.
(Bang/Hariandata)












