Pohuwato

Ditengah Gagal Panen, Yosar Ruiba Berdiri di Lumpur Bersama Petani Pohuwato

×

Ditengah Gagal Panen, Yosar Ruiba Berdiri di Lumpur Bersama Petani Pohuwato

Sebarkan artikel ini

HARIANDATA.COM – Di tengah himpitan krisis akibat gagal panen massal yang melanda petani, satu nama mencuat karena keberaniannya berdiri di garis depan.

Yosar Ruiba, penambang rakyat, tampil berbeda saat banyak pihak memilih diam dan menjaga jarak dari persoalan petani.

Komitmen Yosar terhadap nasib petani Pohuwato terlihat nyata ketika ia hadir dan bersuara dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) gabungan komisi DPRD Kabupaten Pohuwato, Rabu (28/1/2026).

RDPU tersebut membahas kondisi memprihatinkan petani di Kecamatan Buntulia dan Kecamatan Duhiadaa.

Sekitar 1.500 hektare lahan sawah dilaporkan terganggu akibat sedimentasi lumpur tambang yang masuk ke jaringan irigasi.

Endapan lumpur yang memenuhi saluran air menyebabkan aliran irigasi tersumbat. Akibatnya, sawah-sawah warga kerap terendam, produktivitas pertanian merosot drastis, dan roda perekonomian masyarakat ikut terpuruk.

Bagi petani, lumpur itu bukan sekadar endapan tanah. Ia menjadi saksi bisu gagal panen massal yang merenggut sumber penghidupan ribuan keluarga.

Di tengah kondisi tersebut, dari sekian banyak penambang yang beroperasi di wilayah pertambangan rakyat, hanya Yosar Ruiba yang secara konsisten turun langsung ke lapangan.

Ia melakukan pengerukan sedimentasi di aliran sungai demi memulihkan pasokan air ke sawah warga.

RDPU itu sendiri turut dihadiri pengusaha penggilingan padi, pemerhati lingkungan, perwakilan penambang, KPSD Pohuwato, serta Ketua KTNA.

Namun, Yosar tercatat sebagai satu-satunya tokoh penambang yang hadir secara terbuka dan menunjukkan keberpihakan nyata kepada petani.
Di hadapan anggota dewan dan peserta rapat, Yosar menyampaikan sikap tegas.

Ia menilai banjir lumpur yang merusak persawahan warga menjadi bukti tidak berfungsinya settling pond atau kolam pengendap milik perusahaan.

“Kita tidak boleh menutup mata. Petani kehilangan mata pencaharian karena sawah mereka tertutup lumpur,” tegas Yosar.

Menurutnya, sebagai pelaku industri, seluruh pihak memiliki tanggung jawab memastikan infrastruktur pencegah sedimentasi berfungsi optimal, terlebih saat cuaca ekstrem.

“Sebagai pelaku industri, saya tegaskan bahwa infrastruktur pencegah sedimentasi harus bekerja maksimal. Jangan sampai petani terus menjadi korban,” katanya.

Di tengah ketidakpastian dan kecemasan yang dirasakan petani, kehadiran Yosar menjadi secercah harapan. Bagi warga, keberpihakan itu bukan sekadar pernyataan, melainkan aksi nyata di lapangan.

Saat banyak pihak memilih menepi, Yosar Ruiba justru memilih berdiri di lumpur bersama petani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *