HARIANDATA.COM– Bagi para petani di Pohuwato, air bukan sekadar kebutuhan, melainkan sumber kehidupan. Ketika saluran irigasi tersumbat lumpur dan sawah mulai mengering, harapan pun ikut terancam. Kondisi itulah yang menjadi sorotan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) di DPRD Kabupaten Pohuwato. Namun bagi YR, pembahasan itu tak cukup hanya menjadi catatan rapat.
Usai RDP, tanpa jeda dan tanpa seremoni, YR bersama timnya langsung bergerak ke lapangan. Dari Kecamatan Buntulia, Duhiadaa, hingga Marisa, alat berat diturunkan. Lumpur yang selama ini menutup aliran air mulai dikeruk, satu demi satu, seolah membuka kembali jalan bagi kehidupan yang sempat tersendat.
Sedimentasi lumpur tambang telah lama menjadi beban bagi petani. Sekitar 1.500 hektare lahan sawah di dua kecamatan terdampak serius. Air yang seharusnya mengalir tenang ke petak-petak sawah justru tertahan, membuat tanaman terancam gagal tumbuh dan panen tak lagi pasti.
“Hari ini kami langsung bergerak. Ini bukan soal siapa yang salah atau benar. Yang terpenting, petani bisa kembali menanam dan kembali berharap,” ujar perwakilan YR Team, Jum’at (30/01/2026).
Bagi YR Team, langkah ini bukan sekadar kerja teknis, melainkan bentuk tanggung jawab moral. Sebagai penambang rakyat yang hidup dan bekerja di tengah masyarakat, mereka menyadari bahwa pertanian adalah nadi kehidupan warga. Ketika sawah terganggu, roda ekonomi desa pun ikut melambat.
“Kami ingin petani kembali fokus menggarap sawahnya. Kalau irigasi kembali normal, hasil panen juga bisa maksimal,” tuturnya.
YR Team menegaskan, kegiatan normalisasi ini merupakan inisiatif murni sebagai wujud kepedulian terhadap penderitaan petani yang sudah terlalu lama bergulat dengan dampak sedimentasi. Tak ada kepentingan lain selain memulihkan lingkungan dan menjaga agar penghidupan warga tetap berlanjut.
Diketahui, YR Team merupakan kelompok yang dibentuk oleh salah satu pelaku usaha pertambangan dan bekerja secara kolektif dalam berbagai kegiatan sosial dan lingkungan. Normalisasi irigasi yang kini dilakukan menjadi salah satu upaya nyata mereka untuk menjembatani harmoni antara aktivitas tambang dan kehidupan masyarakat.
Bagi para petani, deru alat berat yang bekerja di saluran irigasi hari ini bukanlah kebisingan. Ia adalah suara harapan. Harapan agar air kembali mengalir ke sawah, benih kembali ditanam, dan masa depan tetap bisa dititipkan pada tanah yang mereka rawat dengan keringat setiap hari.
(Bang/Hariandata)












